Saat membersihkan badan Lynx, Leena tidak bisa menahan rasa penasarannya. Pil yang diminum Lynx ternyata tidak hanya memberikan kekuatan, tapi juga memberikan perubahan yang luar biasa pada tubuh pria itu. Kulitnya menjadi sangat halus, lembut, dan bersih, serta otot-ototnya terlihat lebih kuat dan padat.

Saat membersihkan bagian yang lebih intim, Leena merasa sedikit ragu. Ia teringat kembali pada pertemuan pertama mereka, saat mereka sama-sama tidak mengenakan pakaian karena pakaian mereka tertiup angin pada saat dijemur.

Leena merasa pipinya memanas mengingat kejadian itu. Ia sering merasa tidak nyaman karena Lynx terlihat bereaksi setiap kali melihat tubuhnya.

"Maafkan aku, Lynx," ucap Leena pelan sambil mulai membersihkan area tersebut dengan hati-hati. "Aku hanya ingin memastikan kau bersih, tidak ada maksud lain."

Leena berusaha menjaga sikapnya, meskipun jantungnya berdebar kencang. Ia tahu Lynx membutuhkan perawatan, jadi Leena harus tetap fokus pada tugasnya.

Perlahan-lahan, ia membersihkan area yang lebih intim itu dengan lembut, berusaha tidak menyentuhnya lebih dari yang diperlukan.

Setelah selesai membersihkan seluruh badan Lynx, Leena merasa lega, karena aroma tidak enak sebelumnya sudah menghilang dari badan Lynx. Ia berharap Lynx segera sadar dan pulih, sehingga mereka tidak perlu lagi mengalami situasi canggung seperti ini. Leena menghela napas, kemudian melanjutkan membersihkan bagian tubuh Lynx yang lain dengan lebih tenang.

Sementara Leena sibuk merawat Lynx, kepala kampung Sinto, seorang pria tua bernama Maret, mengumpulkan semua warga yang selamat di tengah kampung. Ia berdiri di depan sisa-sisa lumbung gandum yang hangus.

"Kita kehilangan banyak hal," kata Maret dengan suara berat. "Monrest tidak hanya mengambil obat-obatan dan hasil panen kita, tetapi juga menghancurkan sebagian besar tempat tinggal kita. Ini adalah peringatan dari mereka agar kita terus memberikan upeti."

Salah satu warga, seorang pria muda dengan wajah marah, berseru, "Sampai kapan kita harus tunduk pada mereka? Bukankah sudah cukup kita kehilangan nyawa dan martabat kita?"

Maret menghela napas panjang. "Aku mengerti kemarahanmu, tetapi Monrest jauh lebih kuat daripada kita. Melawan mereka tanpa rencana hanya akan membawa kehancuran lebih besar."

Karim yang berada di sana berbicara. " orang-orang yang bersama kami, mereka tanpa ragu mengorbankan diri untuk menyelamatkan teman-teman kita, dan mereka berhasil mengalahkan Kargo, pimpinan Monrest. Kita harus mendukung dan mempercayai mereka untuk menolong kita."

Salah seseorang pemuda menggeleng pelan. "Mereka hanya tiga orang, dan kita tidak memiliki senjata atau kekuatan yang cukup. Selain itu Suku Sinto tidak terbiasa berperang."

Karim, yang mendengar ucapan itu, mendekat dengan wajah penuh amarah. "Kalau kita terus menyerah seperti ini, mereka akan terus menindas kita sampai tidak ada yang tersisa! Tidak ada jalan keluar selain melawan!"

Sebelum Maret sempat membalas, Dorna berkata. "Cukup," katanya tegas. "Pertarungan ini belum usai, tetapi kita harus memastikan para pahlawan kita bangun dulu."

Setelah mendengarkan apa yang dikatakan tetua Suku Sinto yang juga dikenal sebagai dukun yang selalu mengobati mereka, seluruh penduduk membubarkan diri dan kembali kepada aktivitas sambil menunggu rencana berikutnya dari kepala suku.

Malam itu, setelah minuman herbal Dorna mulai menunjukkan efeknya, Lynx perlahan membuka matanya. Rasa sakit masih menjalar di tubuhnya, tetapi ia merasa kekuatannya perlahan kembali. Di sisi lain pondok, Leena langsung mendekat begitu melihat Lynx sadar.

"Lynx! Syukurlah kau bangun," katanya dengan nada penuh lega.

Lynx mencoba duduk, tetapi Leena mendorongnya pelan. "Jangan terlalu memaksakan diri."

"Apa yang terjadi?" tanya Lynx pelan.

"Kita ada di perkampungan sekarang. Karim dan lainnya membawa kita ketempat mereka." Kata Leena menjelaskan ke Lynx.

"Karim? Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Lynx lebih lanjut.

"Iya, dia baik-baik saja berkat kamu yang menolongnya. Dia sekarang sedang bersama kepala suku." Kata Leena menjelaskan.

Leena dan Lynx lalu membahas tentang pil yang diminum Lynx beserta efeknya dan berbagai kejadian yang menimpa mereka sebelumnya.

"Aku merasa sangat kuat sekarang. Kurasa aku sudah menjadi manusia super sekarang." Kata Lynx sambil bercanda.

"Syukurlah kalau begitu, kampung ini membutuhkan bantuan kita," kata Leena, meskipun suaranya masih terdengar lemah namun dia tetap bersemangat untuk menolong mereka. "Mereka tidak bisa terus hidup dalam ketakutan seperti ini."

Leena menggenggam tangan Lynx. "Tapi kau harus sembuh dulu. Jangan berpikir terlalu jauh."

Saat itu, Dorna masuk membawa semangkuk ramuan baru bersama Sherly dan Aliah. "Kau memiliki semangat yang kuat, anak muda," katanya. "Tetapi Leena benar. Melawan Monrest tidak akan mudah."

Leena lalu memperkenalkan Dorna kepada Lynx, dia menceritakan bahwa Dorna adalah dukun di kampung tersebut yang memiliki kemampuan untuk mengobati, mereka adalah suku Sinto dan dia yang mengobati Lynx.

Aliah mendekati Lynx dengan senyum lebar. "Wah, Lynx, kau wangi sekali sekarang! Leena memang pandai membersihkan tubuh."

Lynx terlihat sedikit kaget dan malu mendengar perkataan Aliah. "Berarti dia melihat seluruh tubuhku," Kata Lynx didalam hati, lalu Ia melirik ke arah Leena yang juga memalingkan wajahnya, pipinya merona merah.

"Ah, i-iya, terima kasih Leena," ucap Lynx canggung.

Di sisi lain, Sherly berdiri dengan wajah masam. Ia menatap Lynx dan Leena dengan tatapan sinis.

"Harusnya aku yang membersihkan tubuhmu, Lynx," ucap Sherly dengan nada ketus. "Tetapi mereka tidak membiarkan aku yang melakukannya? Seharusnya kamu mengerti Leena. " Katanya sambil menatap tajam ke arah Leena.

Leena langsung menatap Sherly dengan tajam. "Apa masalahmu, Sherly? Aku hanya ingin membantu Lynx yang sedang terluka."

"Tapi aku lebih pantas untuk melakukannya!" balas Sherly, suaranya meninggi.

Lynx mengerutkan kening melihat pertengkaran di antara mereka. Ia berusaha duduk dan melerai.

"Sudahlah, jangan bertengkar. Aku menghargai bantuan kalian semua," ucap Lynx.

Sherly mendengus kesal, lalu berbalik pergi. Sementara Aliah dan Dorna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Sherly.

Dorna menyerahkan mangkuk berisi ramuan herbal kepada Lynx. "Minumlah ini, nak. Ini akan membantu mempercepat pemulihan lukamu."

Lynx menerima mangkuk itu dengan hati-hati. Ia meminum ramuan itu perlahan, merasakan hangatnya cairan yang mengalir di tenggorokannya.

"Terima kasih, Nenek Dorna," ucap Lynx setelah selesai.

Dorna mengangguk. "Istirahatlah dulu. Nanti malam kita akan berkumpul di depan rumah kepala suku."

Lynx mengangguk paham. Ia membaringkan tubuhnya kembali, merasakan matanya perlahan memberat. Sebelum tertidur, ia menatap Leena yang masih setia berada di sisinya.

"Terima kasih, Leena," ucapnya lirih.

Leena tersenyum lembut. "Tidurlah, Lynx. Aku ada di sini."

Dengan itu, Lynx pun tertidur, merasa tenang mengetahui Leena ada di sampingnya.

Malam harinya di Kampung suku Sinto dipenuhi keheningan saat api unggun di tengah desa berkobar perlahan. Penduduk desa berkumpul di sekeliling api, mendengarkan Kepala Suku Maret menceritakan kisah yang diwariskan dari leluhur mereka. Lynx duduk bersandar di samping Leena, tubuhnya masih terasa berat meski ia telah pulih sebagian. Sherly berdiri dengan tangan terlipat di pinggir kerumunan, wajahnya memperlihatkan rasa penasaran yang bercampur skeptis.

Kepala Suku Maret memegang tongkat kayu berukir simbol-simbol kuno, berdiri dengan sorot mata yang penuh kesungguhan.

"Meteor yang Membawa Kehancuran"

"Leluhur kami berasal dari dunia yang berbeda dari dunia ini," Maret memulai. "Mereka hidup di dunia di mana energi spiritual dan kekuatan kultivasi adalah segalanya. Namun, suatu hari, mereka menyadari bahwa sebuah meteor raksasa sedang menuju dunia mereka. Meteor itu begitu besar dan penuh dengan energi asing, yang akan menghancurkan dunia jika dibiarkan menghantam."

Penduduk yang mendengarkan mulai bergumam, beberapa mengangguk pelan. Maret melanjutkan, "Para kultivator terhebat bersatu, menciptakan formasi besar untuk memindahkan meteor itu ke dimensi lain. Mereka tidak tahu ke mana meteor itu akan pergi. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka harus menyelamatkan dunia mereka, apa pun risikonya."

Leena memiringkan kepala, bertanya dengan suara lembut, "Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu?"

Maret menggeleng perlahan. "Tidak. Mereka hanya tahu bahwa meteor itu tidak boleh tetap di dunia mereka. Tapi formasi itu tidak sempurna. Ketika mereka memindahkan meteor ke dimensi lain, efeknya tidak berhenti di sana."

"Formasi itu menciptakan robekan di ruang dimensi," lanjut Maret. "Robekan ini menyebabkan berbagai wilayah dari dimensi lain tersedot ke dalam dimensi yang sama dengan meteor. Begitulah cara pulau ini terbentuk. Wilayah-wilayah dari dimensi berbeda bergabung menjadi satu, membawa penghuninya bersama mereka."

Suara gumaman penduduk semakin terdengar. Beberapa mengingat cerita tentang daerah-daerah aneh di pulau itu yang tampaknya tidak sesuai dengan lingkungan sekitarnya.

"Leluhur kami tiba-tiba menemukan diri mereka di pulau ini, terpisah dari dunia asal mereka," Maret melanjutkan. "Awalnya, mereka pikir mereka hanya perlu waktu untuk menemukan jalan kembali. Tetapi tidak ada jalan keluar. Pulau ini terkunci, dimensi ini terisolasi dari yang lain. Mereka akhirnya menerima kenyataan bahwa ini adalah rumah mereka yang baru."

"Namun, setelah beberapa waktu," kata Maret dengan suara lebih pelan, "meteor itu mulai menunjukkan sifat aslinya. Bukan hanya memiliki energi aneh, meteor itu ternyata memiliki kemampuan untuk menyerap energi dari berbagai dimensi melalui celah-celah dimensi. Energi itu mulai mengubah lingkungan pulau ini. Makhluk-makhluk baru muncul, beberapa di antaranya buas dan berbahaya. Wilayah-wilayah tertentu menjadi tempat yang aneh dan tidak dapat dijelaskan."

Lynx mengerutkan kening, menatap api unggun dengan penuh perhatian. "Jadi, meteor itu adalah sumber dari semua keanehan di pulau ini?"

Dorna, dukun kampung, mengangguk sambil menambahkan, "Leluhur kami tidak pernah menyangka meteor itu memiliki kekuatan sebesar itu. Mereka hanya tahu mereka telah menyelamatkan dunia mereka. Tapi tanpa sadar, mereka membawa bencana lain ke tempat ini."

Leena mencondongkan tubuhnya ke depan. "Lalu, bagaimana Monrest bisa terlibat?" tanyanya.

Maret melanjutkan, "Di antara leluhur kami, ada seorang kultivator bernama Monrest. Dia adalah salah satu yang paling kuat, tetapi juga yang paling tamak. Ketika dia menyadari bahwa meteor itu memiliki kekuatan untuk menyerap energi, dia mulai merencanakan sesuatu yang mengerikan. Dia ingin menggunakan kekuatan meteor itu untuk dirinya sendiri. Karena dia yakin, kekuatan meteor itu membuatnya tidak terkalahkan, bahkan jauh melebihi kekuatan para kultivator di dunia mereka."
